KABUPATEN CIREBON – Ufuk barat Pantai Barong, Gebang, menjadi saksi bisu kesungguhan para santri dalam memadukan hukum syara’ dengan ketelitian ilmiah. Pada Selasa (17/02/2026), keluarga besar Pondok Pesantren Sains Salman Assalam yang terdiri dari jajaran Asatidz dan santri kelas 6 berkumpul di pesisir utara Cirebon ini untuk melaksanakan observasi hilal penentu awal Ramadhan 1447 H.
Kegiatan edukatif ini dipandu langsung oleh pakar falakiyah, Ustadz Saiful Malik dari Badan Falak Kemenag Cirebon. Pemilihan Pantai Barong sebagai lokasi pengamatan sangatlah strategis, karena hamparan laut lepas di sisi barat memberikan pandangan yang bersih dari penghalang (zero obstruction) untuk memburu sabit tipis (hilal).
Laboratorium Sains di Tepi Pantai Baro
Sebagai pondok pesantren yang menyandang nama “Sains”, Salman Assalam menjadikan kegiatan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan laboratorium alam. Para santri kelas 6 diajak untuk memahami variabel astronomi yang menentukan visibilitas hilal secara empiris:
- Geometri Astronomis: Mempelajari posisi matahari dan bulan (azimuth) saat terbenam.
- Ketinggian Hilal: Menghitung derajat ketinggian bulan di atas ufuk sesuai data hisab.
- Optik Modern: Mengoperasikan teleskop presisi untuk memvalidasi data matematis dengan pengamatan visual langsung dari bibir pantai.
Sinergi Fiqih dan Astronomi (Falak)
Ustadz Saiful Malik menekankan bahwa dalam Islam, sains adalah pelayan bagi ibadah. “Rukyatul hilal di Pantai Baro ini adalah bentuk konfirmasi fisik atas perhitungan matematis (hisab). Di Salman Assalam, kita belajar bahwa data sains memperkuat keyakinan dalam menjalankan syariat,” tuturnya di sela-sela pengamatan.
Bagi santri kelas 6, pengalaman terjun langsung ke lapangan ini merupakan bagian dari kurikulum tadabbur alam. Mereka belajar bahwa menentukan awal Ramadhan memerlukan tanggung jawab ilmiah yang besar dan ketelitian tingkat tinggi sesuai standar Badan Falak.
Mencetak Generasi Ulama Saintis
Pondok Pesantren Sains Salman Assalam terus berkomitmen mencetak generasi yang tidak hanya fasih membaca kitab kuning, tetapi juga mahir membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui kacamata sains. Melalui sinergi dengan Kemenag Cirebon, diharapkan para santri mampu menjadi pelopor “Ulama Saintis” yang moderat dan kompeten di masa depan.